415 Rumah Terdampak Bencana, Relawan Salurkan 4 Ton Beras untuk Warga Pong Lengor
LenteraNTT, Manggarai – Guncangan gempa bumi yang melanda kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan trauma mendalam sekaligus kerusakan bangunan di Desa Pong Lengor, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Ratusan bangunan rumah warga tak lagi aman untuk dihuni setelah struktur temboknya retak dan sebagian lainnya roboh.
Di tengah situasi darurat ini, pasokan bantuan logistik berupa 4 ton beras mulai disalurkan langsung kepada warga yang terkena dampak kerusakan rumah, baik yang mengalami kerusakan parah, sedang, maupun ringan.
Aksi kemanusiaan ini digalang oleh para relawan melalui program "Homecoming Challenge 2026: Bantuan Bencana Alam untuk Korban Gempa Flores, NTT". Program tersebut diinisiasi oleh Yayasan Indonesia setara yang bekerja sama dengan mitra lokal Yayasan Puspita Bangun Bangsa (YPBB).
Bantuan ini berhasil dihimpun berkat penggalangan dana dari komunitas Pondok Indah Golf Club serta komunitas lari Sydney Marathon di Jakarta, yang mendapat dukungan penuh dari Pembina Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Uno.
Pendiri Yayasan Puspita Bangun Bangsa, Florianus Santosa Nggagur, menegaskan bahwa penentuan alokasi logistik disesuaikan dengan skala dampak di setiap desa. Dari puluhan titik terdampak, Desa Pong Lengor diputuskan menjadi penerima porsi bantuan beras terbesar dari para relawan untuk mencakup seluruh warga yang terdampak. "Jumlah bantuan memang kita bagi berdasarkan tingkat keparahan bencana di lapangan. Untuk hari ini, alokasi yang paling banyak kita salurkan ke Pong Lengor, yaitu sebanyak 4 ton beras," terang Florianus.
Data resmi dari Pemerintah Desa Pong Lengor per 23 September 2026 mencatat ada 415 rumah yang terdampak Gempa. Rincian kerusakan mencakup:
* Rusak Berat: 149 unit rumah
* Rusak Sedang: 90 unit rumah
* Rusak Ringan: 176 unit rumah
Dampak dari kerusakan pemukiman tersebut menyasar sedikitnya 559 Kepala Keluarga (KK) atau 2.064 Jiwa warga Desa yang kini harus kehilangan tempat tinggal yang aman.
Selain tantangan pemenuhan bahan pangan, kondisi warga di lapangan kian memprihatinkan lantaran minimnya ketersediaan terpal untuk dijadikan tenda darurat.
Merespons keterbatasan ini, Kepala Desa Pong Lengor Roland Rampong mengimbau masyarakat untuk saling bergotong royong memanfaatkan material yang ada di sekitar pemukiman. Warga diminta membangun hunian sementara (huntara) secara mandiri untuk perlindungan darurat, sembari menunggu penanganan dan penyaluran bantuan lanjutan dari pihak berwenang (Pemerintah).
Penulis: Jhonas | Editor: Jhonas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar