LenteraNTT – Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa
Tenggara Timur, pada Senin, 21 September 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 5,3
tersebut terjadi pada pagi hari dan dirasakan di sejumlah wilayah di Flores.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada
pukul 08.41 WIB atau sekitar pukul 09.41 WITA. Pusat gempa berada sekitar 34
kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG
menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Meski demikian, masyarakat
tetap diimbau untuk berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Guncangan gempa kali ini juga berdampak pada pembangunan hunian sementara
(huntara) bagi warga terdampak gempa di Kampung Ronting, Desa Satar Kampas,
Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Rangka baja ringan yang
sedang dipasang untuk pembangunan huntara tersebut roboh setelah gempa terjadi.
Kejadian itu kemudian menjadi perhatian setelah rekamannya beredar di media
sosial.
Namun, BNPB memberikan penjelasan bahwa bangunan yang roboh tersebut
belum merupakan huntara yang telah selesai dibangun. Direktur Penanganan Darurat
Wilayah II BNPB, Riswandi, menjelaskan bahwa rangka bangunan masih dalam tahap
pemasangan. Struktur tersebut belum dikunci seluruhnya dan proses pengecoran
atau penyemenan juga belum selesai dilakukan.
Dengan demikian, informasi yang
menyebutkan huntara yang sudah selesai dibangun kemudian roboh perlu diluruskan.
Yang mengalami kerusakan adalah rangka bangunan yang masih dalam proses
pengerjaan. Gempa susulan masih menjadi perhatian setelah gempa besar yang
mengguncang Flores pada Agustus 2026.
BMKG sebelumnya mencatat ribuan aktivitas
gempa susulan di wilayah Flores dan terus melakukan pemantauan terhadap
perkembangan aktivitas kegempaan. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan
tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya,
serta mengikuti perkembangan dari BMKG dan pemerintah daerah.
Bagi warga yang
berada di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan, kewaspadaan tetap
diperlukan, terutama dengan menghindari bangunan yang terlihat retak atau tidak
stabil. Peristiwa robohnya rangka huntara di Ronting menjadi pengingat bahwa
proses pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak bencana perlu dilakukan
dengan memperhatikan keamanan dan kesiapan struktur sebelum digunakan oleh
warga.
Penulis: Jhonas | Editor:Jhonas
Sumber: BMKG, BNPB, Metro TV/Media
Indonesia
