BBM Langka di Bali, Warga Antre Berjam-jam di SPBU, Distribusi Jadi Sorotan

Menu Atas

Iklan

Halaman

BBM Langka di Bali, Warga Antre Berjam-jam di SPBU, Distribusi Jadi Sorotan

Lenterantt
Minggu, 18 Oktober 2026

LENTERANTT.COM, BALI — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali memicu antrean panjang kendaraan. Warga dilaporkan harus menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar demi memenuhi kebutuhan transportasi dan aktivitas sehari-hari. Persoalan tersebut menjadi perhatian masyarakat setelah antrean kendaraan terjadi di berbagai wilayah Bali sejak awal hingga pertengahan Oktober 2026. Sejumlah pemberitaan menyebutkan antrean muncul di Denpasar, Badung, Tabanan, hingga beberapa wilayah lainnya. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, pada Rabu (14/10/2026) menjelaskan bahwa antrean BBM di Bali dipicu kendala distribusi, termasuk keterlambatan kapal pengangkut bahan bakar. Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, sebelumnya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean yang terjadi. Pertamina menjelaskan bahwa kendala teknis pada kapal pengangkut saat proses bongkar muat turut menghambat penyaluran BBM. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan stok di tingkat penyimpanan tidak otomatis menjamin BBM tersedia merata di setiap SPBU. Kelancaran pengiriman dari terminal hingga ke stasiun pengisian menjadi faktor penting agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Pertamina Patra Niaga menyatakan telah memperkuat pasokan BBM ke Bali dan mempercepat distribusi ke SPBU. Pada 13 Oktober, perusahaan tersebut mengumumkan rencana pengiriman bertahap dengan total tambahan pasokan 26.200 kiloliter, termasuk Pertalite dan Pertamax. Pemerintah Provinsi Bali bersama Pertamina juga menerapkan kebijakan pembelian Pertalite berdasarkan nomor kendaraan dengan sistem ganjil-genap pada 17–19 Oktober 2026. Dalam perkembangan yang dilaporkan pada 17 Oktober, Pertamina menyebut antrean di sejumlah SPBU mulai berangsur berkurang. Meski demikian, pemulihan belum sepenuhnya merata. Pada 18 Oktober, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai masih menyoroti perlunya pemerataan ketersediaan BBM, karena beberapa SPBU dilaporkan memiliki Pertalite tetapi belum tersedia Pertamax. Antrean panjang BBM bukan sekadar persoalan waktu tunggu. Bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja, berdagang, mengantar anak sekolah, maupun menjalankan usaha, kesulitan mendapatkan bahan bakar dapat mengganggu kegiatan ekonomi sehari-hari. Situasi ini juga menegaskan pentingnya koordinasi antara pemerintah, Pertamina, pengelola terminal BBM, dan pihak yang bertanggung jawab atas distribusi agar keterlambatan pasokan dapat segera ditangani. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai ketersediaan BBM di setiap wilayah, jadwal penyaluran, serta langkah penanganan apabila terjadi kekosongan stok di SPBU. Hingga perkembangan yang diberitakan pada 18 Oktober 2026, antrean dilaporkan mulai terkendali di sejumlah lokasi, tetapi pemerataan pasokan masih menjadi perhatian. Kondisi di setiap SPBU dapat berbeda sehingga masyarakat diimbau memeriksa informasi terbaru sebelum melakukan perjalanan. oleh : Jhonaz